Indonesian National CommitteE on irrigation and drainage (inacid) / Komite Nasional indonesia untuk irigasi dan drainase (kni-id)
Delegasi INACID Berbagi Pengalaman Digitalisasi Irigasi dan Dorong Penguatan Single Management Irrigation pada Kongres ICID ke-26 di Prancis
Marseille–Aix-en-Provence, Prancis, 12–17 Oktober 2026 — Delegasi Indonesia berpartisipasi dalam Kongres Internasional ke-26 International Commission on Irrigation and Drainage (ICID) dan kegiatan Knowledge Exchange on Irrigation Modernization, Governance and Service Delivery yang diselenggarakan di Prancis. Keikutsertaan ini menjadi momentum bagi Indonesia untuk berbagi pengalaman pengelolaan irigasi sekaligus memperkuat pembelajaran internasional mengenai modernisasi irigasi, tata kelola kelembagaan, digitalisasi, dan peningkatan kualitas layanan kepada petani.
Kongres ICID ke-26 yang berlangsung pada 12–14 Oktober 2026 di Parc Chanot, Marseille, mengusung tema “Water and Agricultural Resilience in the Face of Climate Change”. Kegiatan dilanjutkan dengan Knowledge Exchange yang diselenggarakan oleh World Bank pada 15–17 Oktober 2026 di Aix-en-Provence, dengan melibatkan para pengambil kebijakan dan pemangku kepentingan dari berbagai negara.
Delegasi INACID Berpartisipasi dalam Forum Internasional
Delegasi INACID yang turut hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut terdiri atas perwakilan pemerintah, praktisi, dan akademisi, yaitu:
Dr. Airlangga Mardjono, S.T., M.T., PUB
Dr. Ir. Mochammad Amron, M.Sc.
Dery Indrawan, S.T., M.T.
Ir. Syaiful Mahdi
Ir. Lukman Hakim, S.T., M.T.
Mas’udy Arie Indarto, S.Sos., M.T.
Ir. Sanidhya Nika Purnomo, S.T., M.T., Ph.D. – Universitas Jenderal Soedirman
Wahyu Widiyanto, Ph.D. – Universitas Jenderal Soedirman
Ari Sentani – Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)
Rahmatia Sarah Wahyudi – Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)
Yulia Indriani – Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA)
Keterlibatan delegasi dalam kegiatan ini mencerminkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, praktisi, dan perguruan tinggi dalam mengembangkan inovasi serta memperkuat kebijakan pengelolaan irigasi di Indonesia.
Kontribusi Indonesia dalam Pertukaran Pengetahuan
Pada Kongres ICID ke-26, akademisi Indonesia turut mempresentasikan hasil penelitian terkait pengelolaan sumber daya air. Ari Sentani memperkenalkan kerangka pemodelan RIVANA melalui studi kasus Daerah Aliran Sungai (DAS) Tuntang, sedangkan Yulia Indriani memaparkan penelitian mengenai optimasi pengelolaan tampungan air di Heritage Solo Valley dan DAS Karangnongko.
Delegasi Indonesia juga mengikuti diskusi Farmer-Led Irrigation Development and Result-Based Financing yang membahas pendekatan pengembangan irigasi berbasis peran petani dan pembiayaan berbasis hasil. Selain itu, delegasi berpartisipasi dalam diskusi mengenai irigasi cerdas (smart irrigation) dan masa depan layanan irigasi.
Dalam kegiatan Knowledge Exchange, Kepala Balai Teknik Irigasi, Kementerian Pekerjaan Umum, menyampaikan materi “Digitalization of Irrigation Management” dengan studi kasus Daerah Irigasi (DI) Manganti. Paparan tersebut memperkenalkan pengalaman Indonesia dalam memanfaatkan data dan teknologi digital untuk mendukung pengambilan keputusan dalam pengelolaan irigasi.
Pada forum yang sama, Indonesia turut membahas pendekatan Single Management Irrigation (SMI) sebagai upaya penguatan tata kelola pengelolaan irigasi secara terpadu. Pembahasan ini menjadi bagian penting dari pertukaran pengalaman antarnegara untuk menjawab tantangan pengelolaan air pertanian yang semakin kompleks.
Indonesia – 100 Days Action Plans: Penguatan Single Management Irrigation
Salah satu hasil penting dari rangkaian Knowledge Exchange adalah penyusunan Indonesia – 100 Days Action Plans, yang menempatkan penguatan Single Management Irrigation (SMI) sebagai agenda reformasi kelembagaan dalam pengelolaan irigasi.
SMI mengusung prinsip “Many Executors, One System Control”, yaitu berbagai instansi tetap menjalankan kewenangan dan perannya masing-masing, tetapi bekerja dalam satu rencana, satu kendali operasional, dan satu akuntabilitas layanan. Pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi fragmentasi pengelolaan serta memperkuat keterpaduan antara pembangunan infrastruktur irigasi dan program pertanian.
Rencana aksi tersebut menitikberatkan pada dua langkah utama.
1. Memperkuat SMI melalui penguatan Unit Pengelola Irigasi (UPI)
UPI didorong untuk berperan sebagai connecting hub atau simpul koordinasi yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan dalam pengelolaan irigasi. Peran ini mencakup fasilitasi diskusi kelompok terarah melalui Irrigation Service Agreement (ISA), dengan melibatkan dinas pertanian daerah, komisi irigasi, Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), dan pemangku kepentingan lainnya.
UPI juga diharapkan dapat menyinkronkan program pembangunan fisik, rehabilitasi, dan peningkatan jaringan irigasi dengan program serta intervensi pertanian di tingkat daerah irigasi. Dengan demikian, pembangunan infrastruktur tidak berjalan sendiri, tetapi terhubung langsung dengan kebutuhan budidaya dan peningkatan produktivitas pertanian.
2. Meningkatkan kapasitas teknis dan kelembagaan UPI
Penguatan UPI dilaksanakan melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pemanfaatan teknologi digital. Pemerintah pusat diarahkan untuk memberikan pelatihan digitalisasi pengelolaan irigasi guna mendukung lima pilar modernisasi irigasi di Indonesia.
Rencana aksi ini mencakup penguatan pencatatan data digital, pengembangan percontohan sistem SCADA di lokasi terpilih, serta integrasi teknologi remote sensing, kecerdasan buatan (AI), dan sistem informasi pendukung lainnya. Pemantauan kinerja juga didukung melalui Indeks Kinerja Sistem Irigasi (IKSI) dan Indeks Sistem Manajemen Aset (PAKSI).
DI Manganti menjadi salah satu lokasi percontohan yang direncanakan untuk mengintegrasikan teknologi remote sensing dengan sistem digital yang telah tersedia. Selain itu, pelaksanaan diagnostik Irrigation Operator of the Future (iOF) direncanakan untuk mengevaluasi kinerja operator irigasi dari berbagai dimensi dan mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki. UPI sebagai operator irigasi juga didorong menerapkan pemantauan operasi dan pemeliharaan berbasis digital.
Melalui kedua langkah tersebut, SMI diharapkan tidak hanya memperkuat koordinasi kelembagaan, tetapi juga meningkatkan kemampuan operator dalam mengelola sistem irigasi secara terukur, terpadu, dan berorientasi pada hasil layanan.
Belajar dari Praktik Pengelolaan Air di Prancis
Selain diskusi dan presentasi, delegasi Indonesia mengikuti kunjungan teknis untuk mempelajari pengelolaan sumber daya air dan penerapan teknologi irigasi di Prancis. Kegiatan mencakup kunjungan ke pameran pertanian MED Agri Trade Fair di Avignon, La Pugere Experimental Agronomic Station yang berkaitan dengan teknologi irigasi tetes dan pemanfaatan panel surya di perkebunan apel, serta sejumlah infrastruktur dan lembaga pengelola air di wilayah Provence.
Delegasi juga mempelajari peran lembaga pengelola air regional, seperti BRL Groupe, Société du Canal de Provence (SCP), dan Rives & Eaux, serta praktik pengelolaan air melalui Authorized Landowners’ Association (ASA).
Kunjungan lapangan ke Centre d’Exploitation de Saint-Maximin yang dikelola SCP memberikan kesempatan untuk mengenal secara langsung pengelolaan bangunan dan saluran irigasi. Pembelajaran ini menunjukkan bahwa model pengelolaan irigasi perlu disesuaikan dengan kondisi hidrologi, infrastruktur, pengguna air, tata ruang, dan karakteristik kelembagaan setiap wilayah.
Modernisasi Irigasi Harus Berorientasi pada Layanan
Salah satu pembelajaran utama dari rangkaian kegiatan ini adalah perlunya pergeseran paradigma modernisasi irigasi, dari pendekatan yang berfokus pada pembangunan infrastruktur menuju pendekatan yang berorientasi pada layanan (service-oriented modernization).
Modernisasi tidak cukup dilakukan melalui rehabilitasi saluran, pemasangan sensor, atau pembaruan peralatan. Upaya tersebut perlu disertai kepastian bahwa air dapat disalurkan hingga ke tingkat petani secara andal, memadai, dan adil.
Teknologi digital, penginderaan jauh, dan sistem pemantauan perlu dimanfaatkan untuk mendukung keputusan operasional dan meningkatkan kinerja layanan irigasi, bukan sekadar menghasilkan data. Keberlanjutan layanan juga bergantung pada kejelasan pembagian peran kelembagaan, kepastian pendanaan operasi dan pemeliharaan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, keberlanjutan ekonomi petani menjadi faktor penting. Pengelolaan irigasi yang baik perlu berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas lahan dan kesejahteraan petani agar manfaat infrastruktur dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Menuju Pengelolaan Irigasi yang Terpadu dan Berkelanjutan
Keikutsertaan delegasi INACID dalam Kongres ICID ke-26 dan Knowledge Exchange di Prancis memberikan kesempatan untuk memperkuat jejaring internasional serta memperkaya perspektif dalam pengembangan irigasi nasional. Pengalaman berbagai negara menjadi bahan pembelajaran untuk merumuskan pendekatan yang sesuai dengan kondisi Indonesia, baik dari aspek teknis, kelembagaan, pembiayaan, maupun sosial ekonomi.
Melalui Indonesia – 100 Days Action Plans, penguatan SMI diarahkan pada koordinasi lintas sektor, sinkronisasi pembangunan infrastruktur dan program pertanian, peningkatan kapasitas operator, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pengambilan keputusan. Implementasinya perlu disertai indikator kinerja yang jelas dan evaluasi manfaat agar modernisasi benar-benar meningkatkan kualitas layanan kepada petani.
INACID sebagai bagian dari komunitas irigasi dan drainase Indonesia diharapkan terus mendukung pertukaran pengetahuan, kolaborasi profesional, serta pengembangan inovasi untuk mendorong pengelolaan irigasi yang efektif, efisien, dan berkelanjutan. Upaya ini menjadi bagian dari kontribusi bersama dalam memperkuat ketahanan air dan mendukung ketahanan pangan nasional.










INACID/KNI-ID
Together we dedicate our knowledge and skills to improve irrigation and drainage management to support the welfare of the community.
© 2024. All rights reserved.
Contacts
+62 821-2326-6232
inacid.indonesia@gmail.com
Address
Gedung Ditjen SDA Lt.6, Jl. Pattimura No. 20, Selong, Kebayoran Baru, RT.2/RW.1, Selong, Jakarta Selatan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12110
